Anak Kecil Yang Mesum adalah Cerita Dewasa yang sangat di luar nalar, tetapi supaya tidak penasaran amari kita lanjut ke ceritanya Anak Kecil Yang Mesum nya ya. Nama dokter itu Dr Erwin berusia 40 tahunan, ia adalah seorang yang jenius dan karismatik, Dokter spesialis bedah otak. Ia mempunyai seorang istri bernama Jenni, Dr Erwin sangat mencintai istrinya walaupun istrinya sakit-sakitan.
Dr. Erwin berusaha keras untuk menyembuhkan penyakit istrinya, segala macam cara kedokteran sudah di tempuh dan di cobanya namun penyakit istrinya tidak kunjung sembuh. Semakin lama penyakit istrinya bertambah parah, kodisi tubuh wanita yang di sayanginya bertambah lemah.
“Erwinnn… aku sss udah tidak kuat lagi…” Jenni terkulai lemah dalam pelukan pria yang di cintainya. “Tidak… Tidakkkk sayanggg kamu harruss kuatt… aku tidak sanggup untuk kehilanganmu…”Dr Andre menangis terisak-isak. “Sellll..lepass kepergianku… khau Harus hidup dengan baikkk…”Carolina tampak kesulitan bernafas.
Dr. Erwin menggenggam tangan wanita yang di cintainya erat-erat, jenni tersenyum, perlahan-lahan nafasnya sirna, dan akhirnya berhenti, Dr Erwin menangis terisak-isak menangisi kepergian wanita yang selama ini di cintainya.
Erwin seperti teringat sesuatu, dengan bersusah payah Dr Erwin menggotong tubuh istrinya kesebuah ruangan. Dr Erwin tampak sibuk, mempersiapkan sebuah tabung besar,mengisi tabung besar itu dengan cairan berwarna keperakan, berbagai macam kabel berbagai ukuran menempel di tabung itu, dengan terburu-buru, Dr Erwin memasukkan tubuh istrinya kedalam tabung besar itu.
“Bersabarlah sayangku… sampai aku berhasil………..” Dr Erwin berkata lirih sambil memandangi wanita yang di cintainya yang kini berbaring di dalam tabung besar itu.
Semenjak kematian istrinya Dr Erwin rajin melakukan berbagai macam experiment, sebuah buku tua menarik perhatiannya belakangan ini, wajahnya kini brewokan dan tampak lusuh, selama 8 bulan Dr Erwin bekerja keras siang dan malam.
“Hmmmm….setelah ku-modifikas 70 % berhasil… namun jika gagal akibatnya sungguh mengerikan” Dr Erwin memandangi hewan percobaannya, sorot matanya tampak dingin tanpa expresi, Dr Erwin memandangi sebuah mesin barunya, “Mesin penukar roh X – 5 “(red : bacanya Ex Five he he he,kalo jadi sih T.T neh ceritanya mengenai asal usul mesin X-5 akan di kupas diepisode Hospital episode sekian : X-5 The Origin Crystal Liu Yi Fei Twin’s Babes), senyuman dingin tersungging di wajahnya,
Suatu malam di ruang bawah tanah kedap suara milik Dr. Erwin (Anak Kecil yang Mesum)

“Arggggghhhh…..” terdengar suara lolongan kesakitan seorang pria tua lusuh, namanya Apis seorang pengemis tua, wajahnya terlihat memelas di dalam sebuah tabung besar terbuat dari kaca super kuat.
“Tollooonnnnnggggg….Ayahhhhh Hueggghhhhh….Hhhhhh” Tubuh anak kecil bernama Alex itu kelojotan dan kemudian terkulai lemah didalam tabung besar lain, demikian juga tubuh sipengemis, suara mesin terdengar memekakkan telinga.
Perlahan-lahan tampak sebuah sinar yang berasap melayang-layang di dalam kedua tabung itu. Sinar biru di sebelah kanan dan Sinar kuning di sebelah kiri. Mesin itu kembali bersuara memekakkan telinga beberapa saat kemudian Sinar Biru dan Sinar Kuning itu bertukar tempat Dr Erwin tertawa gembira melihat percobaannya berhasil.
Di sebuah rumah di kota Medan.
“Ayahhh… ini Alex ” seorang pengemis tua memasuki rumah mewah, sang pemilik rumah melotot dan segera memanggil satpam untuk mengusir sipengemis yang menangis meraung-raung seperti anak kecil. Pemilik rumah itu memang sedang mencari anaknya Alex , koq malah ada pengemis yang ngaku menjadi anaknya, sambil menghela nafas pemilik rumah mewah itu masuk kedalam rumah.
“Tolongg Non………., saya belum makan dari kemarin ” sesosok anak kecil memohon dengan wajahnya yang memelas. Seorang gadis SMA berwajah cantik dan kaya memberikan uang 20 ribuan, bahkan bertanya dengan ramah. “Oo jadi Nama Kamu Apis ya….Ayo, masuk hujannn….”Sigadis dengan ramah mempersilahkan anak kecil itu untuk masuk kerumahnya, gadis cantik itu tidak memperhatikan senyuman aneh di wajah sang anak yang tampak polos. “Esssttth… cantik amattt…rejeki gua eh !!!” suara hati, sang anak
“Apis… emang kamu ngak punya orang tua ?” Gadis cantik bermata sipit itu bertanya pada Apis yang tengah makan dengan lahap.
Nama gadis itu Wulan, berusia 17 tahun, kulitnya putih bersih, lekuk tubuhnya benar-benar menggoda, buah dadanya tidak begitu besar, namun nampak keras dibalik baju seragamnya.
Apis menggeleng-gelengkan kepala, wajahnya sengaja di buat sedih “Uhukkk… uhukkkk… “dia sampai keselek ketika tanpa sengaja melihat Paha Wulan yang mulus tersibak.
“Ehhh kenapa…. Ini… duhhhh kasihannn….” Wulan memberikan segelas air minum pada Apis .
“Waduhhh koqqq di kasih air sihhh…!!! yang aku mau isi di dalam rok..!!! Gllekk Glekkkkk ” Apis menggerutu sambil memperhatikan Wulan yang melangkah menghampiri telepon yang berdering di ruangan itu.
“Hallo.. Ehhh mama… iya… emanggg sihhhh sepertinya begitu”Wulan berbincang-bincang dengan orang tuanya
“Gimana Papa… sehattt ?”Wulan menanyakan kabar ayahnya.
“Jadi kapannn pulangggg ?” Wulan terlihat gembira.
“Kak Wulan kenapa ? “setelah selesai makan Apis menghampiri Wulan yang sedang duduk di atas Sofa empuk, Gadis itu agak manyun.
Wulan menggeleng-gelengkan kepalanya “Ngak apa-apa…. Cuma Sebelll banyak PR”, Apis menatap Wulan dengan wajah serius, matanya memperhatikan tonjolan di dada Wulan,melalui sela-sela kancing baju seragam Apis. Apis bahkan bisa melihat sedikit gundukan daging putih itu.
“Cuppp…”sebuah kecupan mendarat di pipi Wulan
“Heiiiii…. Ngapain sihhh…” Wulan mendadak sewot karena pipinya di cium Apis
“Aa Aaku Cuma mau ngucapin terimakasih aja Wulan…Ehh Kak Wulan” Apis tersentak kaget.
“Ihhhhhh… lucunyaaaa…. He he he…”Wulan mendadak mencubit pipi Apis kemudian gadis cantik itu memeluk Apis. “Aduhhhh….. mampusss aku!!! Uhhhhhh Asikkkkkkkkkkkkk” kata Apis dalam hati.Pada saat Apis lagi bersenang-senang di peluk oleh Wulan tiba tiba suara bel berbunyi
“Kunyukkk…. Siapa sihhhh ganggu aja……” Apis down berat ketika Wulan melepaskan tubuhnya yang kecil mungil dan melangkah menuju pintu.
“Mamahhhhhh…!!!! Ih sebelll tadi di telopon bilangnya besok baru pulanggg” Wulan terlihat manja.
“Haa Haa Haa… bolehhh donggg kita godain anak kita yang manjaaa” terdengar suara laki-laki , yang sepertinya ayah gadis itu.
“Oooo iya Mahhh… Pahhhh kenalin ini Apis…. Kasian deh dia ngak punya orang tua…. Wulan mau ngajak dia untuk tinggal di sini ya… boleh ngakkk ?lagian rumah kita kan besar” Wulan bergelayutan di tangan ayahnya.
“Hmmm… Yaw dahhh… terserahhh kamu… Duhh anak siapa ini baek amattt…”mamah Wulan mencubit hidung putrinya.
Apis cengengesan , kedua orang tua Wulan sangat ramah,tanpa curiga mereka menerima sikecil berotak kotor di rumah mewah itu. Malam semakin larut, penghuni rumah itu masuk kekamarna masing-masing.
Di pagi hari , Apis memperhatikan kamar barunya, sebuah tempat tidur yang empuk, bersih, hangat, otaknya yang ngeres berkhayal dengan kreatif sambil membayangkan tubuh Wulan yang telanjang.
“Tok.. tokkk tokkk…”pintu kamar di ketuk
“Ehhh Kak Wulan…ada apa Kak?” Mata Apis seperti hendak menelanjangi tubuh gadis itu, yang kini memakai seragam SMAnya.
“Apis.. ayo kamu ikut kesekolah… ntar pulangnya temenin aku shooping…Eitttt kamu mandi ama ganti baju dulu”Wulan tersenyum manis ketika Apis mendelik melihat baju barunya yang bermotifkan power ranger.
“Kamu suka ngakk ? tadi ada pedagang keliling lewat trus aku beliin buat kamu….”
“Su Su.. ehhh suka..” Apis gelagapan, jawabannnya tercampur dengan pikiran ngeres di kepalanya, agak manyun pahlawan kecil kita ketika melangkahkan kakinya kekamar mandi.
“Waduhhh masak gua pake baju ginian… norak amattt…. Pilihin baju yang rada-rada macho kek…”Apis memandangi dirinya di cermin, Apis ngak sempat berpikir lebih lanjut,karena Fitri sudah berteriak-teriak memanggilnya.
Apis yang duduk di depan berkali-kali memandangi Wulan yang sedang nyetir, sesekali Wulan tertawa kecil ketika Apis membuat lelucon-lelucon konyol.
Akhirnya tiba juga mereka di sekolahan elite itu, mata Apis melotot lebar-lebar,ia tampak kesulitan mengambil nafas ketika Wulan menaikkan kaki kirinya untuk memakai sepatu, sepasang paha yang mulus dan tampak halus tersibak dari balik rok abu-abu, kedua paha mulus itu bergerak-gerak karena pemiliknya kesulitan memakai sepatu dalam posisi duduk di hadapan Stir mobil.
“Kamu tunggu di sini… ini kunci mobil… kantin ada di sana…nih buat jajan ” Wulan terburu-buru memberikan uang 10 ribuan.
Apis memandangi Wulan yang berlari-lari kecil menuju kelasnya, tangannya menyelinap kebalik celana pendek, kemudian dengan instensif mengocok-ngocok penis kecilnya.
Apis tersenyum lebar melihat Wulan menghampiri mobil, gadis itu menepuk-nepuk kepala Apis sambil berkata. “Kaciannn lama ya he he he” kemudian mobil yang mereka tumpangi berhenti di sebuah mall.
“Yangg ini lebih baguss…”Apis menyarankan sebuah pakaian seksi pada Wulan.
“Tetapi itu terlalu terbuka… maluuu…”Wulan memandangi sebuah tank-top lengkap dengan rok mini.
“Udahhh beli aja… Kak Din bagus koq kalo pake baju ini…
”Apis mulai menjerumuskan Wulan agar mau sedikit mengekspose keindahan tubuhnya, akhirnya Wulan memberanikan diri membeli beberapa buah pakaian minim itu, Apis juga di belikan beberapa buah pakaian anak, sesuai ukuran tubuhnya yang kini pendek dan kecil, sehabis makan dengan akal ngeresnya Apis mengajak Wulan ke Sauna.
Di sini awal mula Anak Kecil Yang Mesum itu sangat berani

Mata Apis melotot melihat tubuh indah itu kini hanya berbalut sebuah kain handuk.
“Apis… panas ya?”Wulan kepanasan.
“Ya iya lah panas, coba lepasin anduknya pasti adem…”Apis menjawab sambil tersenyum rada-rada mesum.
“Enak aja… sini anduk kamu aja yang di lepas…he he he ” Wulan pura-pura hendak menarik handuk yang membalut tubuh pendek dihadapannya.
Walaupun Wulan menarik dengan pelan namun Handuk itu terlepas, atau lebih tepatnya sikecil jagoan kita sengaja melepaskannya.
“Ehhhh…. Aduh….” Apis pura-pura terkejut ketika handuknya terlepas.
Wulan menahan Nafasnya melihat sesuatu di selangkangan Apis, ada ulat kecil yang membengkak.
Dengan berani Apis menghampiri Wulan, tangan Apis hinggap di lutut Wulan.
“Apa boleh aku memanggilmu Wulan..”Apis bertanya serius sambil mengusap-ngusap lutut Wulan.
Mata Wulan memandangi Apis kemudian mengangguk pelan, gadis itu memalingkan wajahnya kearah lain ketika Tangan Apis merayap semakin keatas.
“Ohhh…………” Nafas Wulan memburu ketika Apis menciumi pahanya, Wulan seperti kebingungan, di satu sisi ada rasa nikmat yang membuat penasaran, di satu sisi Wulan kaget berat dengan keberanian Apis, mana mungkin anak sekecil Apis se
berani ini…begitu pikiran gadis itu. Wulan menggeliat resah antara mau menerima perlakuan Apis atau menolak pelecehan yang di lakukan oleh Apis.
Wulan terdiam seribu bahasa ketika tangan Anak Kecil Yang Mesum itu menarik lepas kain handuk di tubuhnya.
Mata Apis terbuka lebar-lebar memandangi tubuh Wulan yang mulus, buah dadanya tidak terlalu besar namun tampak keras, kulitnya yang putih mulus tampak lembab dan halus, rambutnya
yang hitam sepunggung tampak basah. Kedua tangan Wulan menutupi wilayah selangkangannya, tapi hal itu bukan masalah bagi Apis .
Perlahan-lahan Apis meletakkan tangannya di gundukan buah dada Wulan, “Apisss… ahhh” Wulan menepiskan tangan Apis, matanya menatap Apis, dengan berani
Apis menatap dalam-dalam mata Wulan.
Apis mengalungkan kedua tangannya keleher Wulan, di tariknya leher gadis itu dan dengan lembut bibir mereka mulai menyatu dengan erat, tubuh Wulan bergetar hebat ketika lidah Apis
begitu hebat mengait-ngait lidahnya.
“Hmmmm Mmmmmhhh Mhhhh…” suara itu keluar dari mulut Wulan ketika Ciuman Apis mulai berubah begitu rakus dan liar.
“Oufffhhh Haaa ahhh.. Mmmmmhhhhhh” untuk sesaat Wulan berhasil melepaskan bibirnya dari bibir Apis untuk mengambil nafas namun Apis segera mengulum bibir mungil gadis itu kembali.
Rintihan-rintihan tertahan keluar dari mulut Wulan ketika ciuman dan cumbuan Apis yang panas turun kearah dadanya, tubuhnya seperti tersengat aliran listrik ketika meras
akan hisapan kuat di puting susunya.
“Wadowwh…. Blukkkkkkk” Apis terjengkang ketika Tangan Wulan dengan reflek mendorong kepala Anak Kecil Yang Mesum sedang menghisap puting Susunya kuat-kuat.
Setelah berusaha menekan rangsangan yang membara, Wulan berdiri hendak meraih handuk yang tercecer namun dengan cekatan Apis menyambar handuk itu di l
emparkannnya handuk itu jauh – jauh.
Tangan kanan Wulan menutupi wilayah Vaginanya, sedangkan yang kiri di silangkan di depan dada ketika Apis menghampirinya kembali.
“Wulan… he he he” sambil terkekeh-kekeh Apis mengambil posisi di belakang Wulan, tinggi kepalanya pas banget sebuah pantat Wulan yang bulat padat, tangan mungil itu melingkar melingkari pinggul Wulan, sedangkan wajahnya mendekati
bulatan pantat yang empuk dan halus.
“Ohhh……..” Wulanhanya dapat mengeluh panjang ketika lidah Apis menggelitiki sela-sela pantatnya, beberapa menit kemudian Wulan tampak rileks, rasa nikmat yang di berikan oleh Apis sudah meracuni sekujur tubuhnya yang halus dan mulus.
Apis menarik Wulan kearah bangku panjang di ruangan sauna itu kemudian di suruhnya Wulan untuk berbaring di atas bangku itu, Wulan menuruti perintah Apis, tangan Apis mulai merayap di buah dada Wulan, di elus-elusnya bulatan Susu Wulan, putting Susu Wulan tampak mengeras dan meruncing, rintihan-rintihan sem
akin sering terdengar dari mulutnya.
“Haaaa Ahhhhhhhhh….”mata Wulan terbelak kemudian menatap langit-langit ruangan sauna itu dengan sayu, Kedua tangan Wulan tampak terkulai lemas ketika merasa
kan jilatan kasar dibibir Vaginanya.
Mata Apis tambah melotot di perhatikannya baik-baik sebuah gundukan mungil di hadapan wajahnya, belahan tipis mungil di selangkangan gadis itu tampak masih rapat dan selama ini belum terjamah oleh siapapun, bulu-bulu tipis menambah indah pemandangan bukit kecil di selangkangan Wulan, ciuman-ciuman Apis membuat
tubuh Wulan menggeliat-geliat resah.
Dengan kedua jempolnya Anak Kecil Yang Mesum itu berusaha membuka garis tipis di selangkangan Wulan, berkali-kali Jempol Apis tergelincir karena licinnya bibir Vagina Wulan, sampai suatu saat….
“Achhhhhhh…. “Wulan mengeluh ketika merasakan sesuatu di selangkangannya seperti terbuka dengan tiba-tiba, rasanya nikmat mengiringi terbukanya sesuatu di selangkangan gadis itu.</p>
Mata Apis memandangi belahan tipis itu yang kini sedikit terbuka, Harumnya Vagina Wulan keluar dari belahan di selangkangannya, Apis menjulurkan lidah kecilnya dan dengan ahli lidah kecil Apis mulai mengorek-ngo
rek sela-sela di selangkangan Wulan.
Tubuh mulus Wulan sesekali tersentak kuat ketika jilatan Apis mengulas-ngulas dan mengait -ngait daerah sekitar bibir Vaginanya yang selama ini ingin belum pernah di sentuh oleh lawan jenis ba
hkan oleh mahluk kecil seperti Apis.
“He… Ennnnnnnnnggghhhh… Crrrrrrrrrrr CRRRRRRTT ” Wulan mengejang , matanya terpejam rapat-rapat merasakan sesuatu yang baru pertama ini di rasakannya.
“Slllllrrp Sllllllrrrpppppppppp SSSSSLLLLLLRRPP” berkali-kali misdi menghisap dan menelan cairan gurih di selangkangan Wulan.
Apis tersenyum-senyum sambil menunggu Wulan keluar dari kamar ganti, senyumnya semakin lebar melihat Sosok cantik yang kini sudah berpakaian lengkap, sebuah seragam SMA menutup rapih tubuhnya yang putih mulus, tanpa banyak bi
cara Wulan berjalan mendahului Apis.
“Duhhh body bahenol… mulus padet kencenggg he he he” Apis merentangkan tangannya hendak bersandar ketembok yang putih.
“Heeeeiiii… kurang ajarrrrr” wajah Anak Kecil Yang Mesum mendadak pucat ketika tembok yang di sentuhnya berteriak dengan keras.
“Maa Maaaffff… kirain tembok….” Apis meminta maaf dengan gugup pada wanita bertubuh gemuk berbalutkan handuk putih di pinggirnya.
“Tembok muka-lu… Bletakkkkkkkkkk”Wanita gemuk itu menjitak kepala Apis, suara dentuman di atas kepalanya terdengar dengan kuat.
“WAdouuhhhhhhhhhhh… ” Apis sampai jatuh duduk di atas lantai, beberapa orang di sana memandanginya.
“dasar Anak Kecil Yang Mesum ngak tau diri… mau gua pencet lu kayak nyamukk hahhhh ?” wanita gemuk
itu hendak menghampiri Apis kembali.
Tanpa perlu basa-basi Apis mengeluarkan jurus terhebatnya, dengan sigap ia berdiri.
“Heuupp ciattttt” tubuh Anak Kecil Yang Mesum itu mengeluarkan tendangan sakti, dengan sekali kibas si wanita gemuk m
embuat Apis terpelanting cium tanah.
“Hekkkkk…..” mata Apis melotot ketika tangan wanita itu mencekiknya.
“Sokkkk Ciatt-ciattt sagala!!!! gua remes lu biar tau tatakrama” Tangan Apis berusaha setengah mati meraih handuk yang melilit tubuh wanita gemuk itu, dengan sekali sentak akhirnya……!!!!!!!!
“Waaaaaaw….. dasar monster cebolllll ” sigemuk melepaskan cekikannnya di leher misdi, tangannya kelabakan menutupi tubuhnya yang gembrot, Apis buru-buru merangkak dengan cepat kemudian ngacir sebelum segemuk selesai membalutkan handuk di tubuhnya yang b
erukuran raksaksa bagi sikecil Apis.
Apis mencari-cari mobil Wulan, waduh koq ngak ada.,Apis tampak panik apa salah inget kali ya,
perasaan tadi sih di sini mobilnya. Apa ia di tinggal pergi oleh Wulan. Apis tertunduk lesu
“Ditttt….” Apis menolehkan kepalanya kearah klakson mobil, ia tersenyum setelah membuka pintu mobil ia meloncat masuk.
Anak Kecil Yang Mesum itu dengan kurang ajar menyelinapkan tangannya kebalik rok seragam Abu-abu yang di kenakan oleh Wulan. Gadis itu hanya menelan ludah, tanpa berani menepiskan tangan Apis yang semakin kurang ajar mengelus-ngelus pahanya.
Sebuah senyum kemenangan muncul di wajah Apis yang tampak mesum. Lagi asik-asiknya Apis melecehkan Wulan tiba-tiba ia menarik tangannya dari paha Wulan, Apis menundukkan tubuhnya kemudian ngumpet ketakutan melihat Wanita gemuk itu sedang mencari-cari dirinya.
“Majuuuu ayooo cepattt…..!!” Apis memberi perintah pada Wulan agar segera melarikan diri. Malam itu Wulan diam seribu bahasa, ia tampak risih ketika Apis memandanginya, masih terbayang kejadian di ruangan sauna siang tadi.
“Wulan bobo dulu mahh..”Wulan berlalu kekamarnya sedangkan kedua orang tuanya masih asik menonton Super Soulmate.
Suasana hening di rumah mewah itu terusik oleh sosok Anak Kecil Yang Mesum itu mengendap-ngendap di tengah malam, di dorongnya perla
han-lahan pintu kamar di hadapannya. Mata kecilnya berbinar-binar melihat penghuni kamar itu yang sedang terlelap, tanpa suara tubuh kecil itu masuk kedalam kamar, pintu kamar Wulan kembali tertutup perlahan-lahan.
Anak Kecil Yang Mesum tersenyum di sisi ranjang, tangannya mengusur selimut di atas tubuh Wulan, perlahan-lahan dengan hati-hati di bukainya kancing baju piyama Wulan, tangan mungil Apis bergerak menyibakkan kekiri dan kekanan, matanya memperhatikan gerakan buah Susu Wulan yang bergerak dengan indah se
irama dengan helaan nafas gadis itu.
Perlahan-lahan Apis merangkak naik, kedua tangannya memeluk pinggang Wulan, tubuhnya yang kecil mulai meneduhi tubuh Wulan, ciumannya lembut di sekitar buah Susu Wulan, lidahn
ya mengait-ngait putting Susu Wulan.
“Uhhh.. Mmmmmm” Wulan terbangun matanya terbuka dan berkedip beberapa kali, ia mulai mengenali wajah kecil yang tersenyum-senyum di hadapannya, matanya melirik kebawah, baju piyama yang di kenakannya sudah tersibak dengan lebar menampakkan dua buah Susunya yang kini sedang di remas-remas oleh tangan mungil Apis.
Nafas Wulan terlihat memburu, bibirnya mendesah-desah merasakan remasan-remasan di buah dadanya, Apis begitu ahli mempermainkan buah Susu Wulan yang semakin mengeras, tangan Apis membelai-belai bulatan Susu Wulan yang mulus dan halus, di cubitnya putting Susu Wulan kemud
ian di tarik-tariknya dengan lembut.
“Ahhhh Mm Mmaaaaadiiii…” Tangan Wulan menekan kepala Apis ke arah payudaranya, kakinya menendang-nendang di atas ranjang empuk itu.
Lidah Apis mengelitiki putting Susu Wulan, di emutnya puncak payudara Wulan sampai gadis itu menggelepar-gelepar keenakan.
Apis bergerak mengangkangi wajah Wulan sambil menyodorkan penisnya yang kecil. Wulan terdiam memandangi batang kecil itu, namun pada saat Apis menjejalkan helm kecil miliknya mulut Wulan terbuka perlahan, Apis tersenyum sambil menekankan selakangannya kearah mulut Wulan.
Wulan mulai belajar menghisap penis Apis, sebuah pelajaran mesum di ajarkan oleh Apis, otak Wulan di racuni oleh hal-hal berbau porno, mulut Wulan tampak kempot ketika menghisap permen loli di selangkangan
Mata Apis terpejam-pejam menikmati emutan-emutan Wulan sibintang pelajar “Wulan kamu pinter bangettt…. He he he…Flopp”Apis mendadak mencabut penisnya dari mulut Wulan
Kini Apis merangkul tubuh Wulan, bibir mereka bertaut rapat, suara decak rakus keluar dari mulut Apis, lidahnya terjulur mengait-ngait lidah Wulan, kedua tangan Wulan memeluk tubuh
kecil yang berada di atas tubuhnya.
Wulan tambah mendesah-desah ketika ciuman Apis kini semakin turun dan turun…
Sebuah hisapan membuat tubuh Wulan menggelepar , kedua tangan Wulan memegangi kepala kecil di selangkangannya yang sangat rakus dan kehausan.
Apis menekan belahan bibir Vagina Apis, lidahnya mengulas-ngulas daging kecil mungil di dalam Vagina gadis itu, semakin kuat Apis mengulas-ngulas Clitoris Wulan, daging kecil itu tampak semakin mengkilap, di kait-kaitnya dan di emut-emut
dengan hisapan-hisapan yang teratur.
‘Hmmmmm Ohh Maaad Ahhhhhhh” pinggul Wulan terangkat keatas , Apis mengemut lubang Vagina Wulan, mulutnya menghisap kuat-kuat, Vagina Wulan
“Oww… CCCRRRRRRRTTTTT”Wulan memekik kecil, merasakan semburan kenikmatan itu meledak – ledak dan meleleh dari dalam Vaginanya.
Tangan Wulan mendorong kepala Apis yang masih asik melakukan jilatan-jilatan di selangkangannya, mata Wulan melirik kearah lubang Vaginanya, Apis telah menyedot
cairan kenikmatan itu sampai kering.
Gadis itu terduduk di atas ranjang sambil memandangi Apis yang sedang berpakaian, sebelum keluar dari kamar Apis di menghampiri Wulan, sebuah kecupan mampir di kening gadis itu, entah apa artinya, mungkin sebuah rasa terimakasih Apis karena boleh menikmati kemulusan dan kehangatan tubuh Wulan.
Di sebuah meja makan tampak orang tua Wulan, Wulan dan juga Apis sedang menikmati sarapan pagi.
“Koqqq anak mama jadi pendiam sih”Mama Wulan berusaha membuka pembicaraan.
“Ngak koqq… Cuma perasaan mama aja kali..”Wulan mencoba seolah-olah tidak terjadi apa-apa, selanjutnya pembicaraan pun berlanjut di selingi oleh canda tawa.
“Wahhh ha ha ha ha” Apis ngakak ikut-ikutan tertawa walaupun ia tidak mengerti apa yang sedang di bicarakan, sedari tadi ia sedang asik de
ngan segudang pikiran-pikiran mesum.
Wulan dan kedua orang tuanya bengong memandangi Apis, aneh sekali anak ini bercandanya tadi tapi koq ketawanya baru
sekarang, begitulah pikiran mereka.
“Wulan berangkat dulu mah.. pahh…”
“Ya.. hati-hati ya nyetirnya…”
Apis buru-buru menyambar segelas air di meja, ia tidak mau ketinggalan
“Lohhh emang Apis ikut kesekolah?” papah Wulan memandangi tubuh kecil
itu yang bergegas minum dan juga bangkit.
“Ehhh anu… saya mau melindungi Kak Wulan.. supaya ngak ada yang godain kayak kemarin….”Apis mencari alasan.
Kedua orang tua Wulan saling berpandangan kemudian tersenyum, lucu sekali anak kecil ini, kecil-kecil sudah jadi pa
hlawan ingin melindungi anak mereka.
Wulan meraih tas sekolahnya dan kemudian dengan di buntuti Apis ia masuk kemobil , tidak berapa lama Mobil itu mel
uncur menuju sebuah sekolahan elite.
Jika di perhatikan gedung sekolahan itu tampak seperti biasa, beberapa murid sedang asik bersenda gurau, juga sambil menunggu jemputan.
Namun di sebuah ruangan olah raga seorang gadis cantik tengah asik berbaring di atas Matras busa, kedua kaki gadis itu mengangkang, sesuatu bergera
k-gerak di balik rok seragam SMAnya.
Tubuh gadis itu meliuk-liuk , mengeliat-geliat dalam gerakan yang erotic, desahan demi desahan terdengar dari bibir mungilnya.
“Mmm Maaadi.. ahhh Ohhhh ehhhhhh…” kedua kaki gadis itu tiba-tiba bergerak mendekat, matanya terpejam rapat.
“Ahhhh.. pelan-pelan Maaa…..diiii Auhhhhhh ” Wulan memekik kecil ketika merasakan cumbuan Apis di balik rok seragamnya kemudian berubah menjadi liar dan kasar.
Kepala kecil Apis bergerak-gerak dengan liar di balik rok seragam sekolah Wulan, Apis juga tidak mempedulikan permohonan gadis yang sedang kewalahan mengha
dapi cumbuannya yang kasar dan liar.
Kepala Wulan terkulai kekiri , kadang kadang terkulai kekanan, rintihan-rintihan kecilnya terdengar merdu dan asik untuk di dengar.
“Ackkk ampunnnnnn Maaadiiiiiiiihhhhh Aww KCRRRTTTTTT CRRRRRTTTTTTTTTTT ” tubuh Fitri kelojotan di atas matras ketika sebuah kenikmatan melanda selangkangan gadis itu.
“Ihhhhhh…. ” Wulan menurunkan Rok seragamnya yang tersibak keatas ketika kepala Apis terangkat, jagoan kecil kita berlutut di hadapan Wulan, mulutnya terbuka, di dalam mulut itu tampak cairan putih seperti lem.
“Glekkk Glekkkk… he he he asikkk gurihhh lezat….”tanpa merasa jijik Apis menelan cairan kenikmatan di mulutnya.
Wulan duduk di atas matras busa, gadis itu kemudian berusaha mengatur nafasnya setelah terhantam oleh golombang nafsu birahi yang terasa sangat nikmat. Apis berdiri kemudian duduk di atas paha Wulan, kedua kakinya melingkari pinggul Wulan. Mereka berduduk saling berhadapan, tangannya membelit leher gadis berwajah cantik di hadapannya.
Ciuman-ciuman kasar mulai mencecar bibir Wulan, kedua tangan Wulan memeluk tubuh kecil yang menduduki pahanya. Entah kenapa Wulan mulai terbiasa menerima kehadiran Apis yang selalu dapat memuaskan dan memberikan sepercik kenikmatan yang tiada taranya, ataukah ini karena Wulan merasakan aman untuk melampiaskan kebutuhan seksualnya pada Apis jagoan kecil kita Apis
Anak Kecil Yang Mesum itu menyuruh Wulan untuk buka mulut, walaupun masih merasa bingung Wulan menuruti.

“Hmmm…” Mata Wulan terbuka sedikit namun tatapan mata yang tampak sayu ketika Apis menghisapi lidah gadis itu yang terjulur keluar. Lidah Apis mengait-ngait lidah Wulan kemudian menghisapi lidah gadis itu, kedua tangannya melepaskan beberapa kancing baju seragam Wulan. Tangan sikecil Apis kini menelusup kebalik BH yang di kenakan Wulan melalui sela-sela baju seragam gadis itu yang kemudian tersibak oleh tangan nakal Apis .
Apis melepaskan hisapannya pada lidah Wulan, kemudian kini gantian Apis yang menjulurkan lidah kecilnya keluar. Wulan hanya menatap lidah kecil Apis yang terjulur keluar, wajahnya bersemu merah.
Tangan Apis bergerak kebelakang kepala gadis cantik di hadapannya, dengan lembut di tariknya kepala Wulan, mulut Wulan terbuka dan mencoba untuk menghisap lidah Apis, sebuah hisapan lembut yang pertama, Wulan merasakan ada sedikit perasaan an
eh yang mengiringi detak jantungnya.
Setelah menguatkan hati dan menekan perasaan jijik.Kali ini Wulan memberanikan diri membuka mulutnya untuk menghisap lidah Apis, Apis semakin menjulurkan lidahnya ketika merasakan mulut mungil Wulan menghisap lidahnya, saling hisap, saling mengkait lidah , dan kuluman-kuluman yang panas semakin menenggelamkan Wulan kedalam sebuah dunia baru, sebuah dunia kenikmatan yang sulit untuk di lawan dan di tolak, Apalagi ketika tangan mungil Apis menjamahi
buah Susunya yang semakin mengeras.
Kepala Apis kini hinggap di buah dada Wulan, jilatan-jilatannya juga mulai menjalar seputar bulatan Susu Wulan yang empuk dan halus.
Tangan Wulan menyangga punggung Apis, jadi posisi gadis itu seperti sedang menyusui Apis.
“Ohhhh… geliii… Apis enakkk.. akkkkkhhhh” Kemudian Wulan semakin kuat menekan kepala Apis yang sedang asik menyusu di puting Susunya yang runcing kemerahan.
Sambil mengemuti putting susu gadis cantik itu, lidah Apis juga bergerak menggelitiki dan mengait putting Susu Wulan yang runcing mengeras. Tangan Apis tidak mau di am bergerak mengelus-ngelus paha gadis yang sedang menyusuinya. Duhhh udahh disusui masih juga ngusap-ngusap paha… serakah banget ya
“Ahhhh AaaaAAAAAAAAHHHH CRRRTTT CRRRRRRRRR” Suara merdu Wulan pun akhirnya terdengar seperti bergelombang, sebuah kemenangan bagi sikecil Apis.
Wulan tampak sedang merapikan rambutnya, juga pakaian seragam telah rapi menutupi tubuhnya yang mulus. Tangan Apis masih berkeliaran di permukaan Paha Wulan.
Perlahan-lahan akhirnya Wulan dan Apis keluar dari ruangan olahraga. Dari belakang Apis menatap pinggul Wulan yang bergoyang-goyang seirama dengan langkah kaki gadis itu.








