Cinta Terlarang di Kapal Pesiar
Undangan yang Menggoda

Cerita Dewasa: Cinta Terlarang di Kapal Pesiar. Kapal pesiar itu bernama Aurora Blue — megah, berkilau di bawah langit senja. Semua tamu berdandan elegan, membawa gelas sampanye dan juga senyum buatan. Glen tidak berniat datang sebenarnya, tetapi undangan itu terlalu menggoda untuk diabaikan.
Nama yang tertera di pojok bawah undangan membuatnya berhenti berpikir: Chelsea Mardiana.
Mereka pernah bekerja di perusahaan yang sama — dan pernah saling jatuh cinta, meski Chelsea sudah bersuami. Kini, dua tahun berlalu, mereka bertemu lagi di atas laut yang seolah tak punya batas.
Saat Glen naik ke dek utama, matanya langsung menemukannya. Chelsea berdiri di tepi kapal, gaun hitamnya menari pelan dihembus angin. Senyum tipis di wajahnya bukan sekadar ramah — ada sesuatu di sana. Sesuatu yang mengundang, tetapi berbahaya.
“Masih suka laut?” tanya Glen pelan, mendekat.
Chelsea menoleh, mata mereka bertemu — dan waktu seolah berhenti.
“Suka,” jawabnya lembut. “Tetapi malam ini, lautnya terasa terlalu tenang. Seolah sedang menyimpan rahasia.”
Glen tersenyum samar. Ia tahu, rahasia itu bukan milik laut — tetapi milik mereka berdua.
Cinta Terlarang di Kapal Pesiar – Di Antara Gemerlap Lampu

Pesta malam dimulai. Musik lembut mengalun, gelas beradu, dan juga tawa para tamu berbaur dengan suara ombak. Chelsea duduk di balkon belakang, memandangi bintang. Glen menghampiri dengan dua gelas anggur.
“Untuk kenangan yang tidak seharusnya diingat,” katanya, menyodorkan segelas.
Chelsea tertawa kecil, tetapi suaranya berat. “Kau selalu tahu cara membuat sesuatu terasa salah, tetapi indah.”
Mereka bicara lama — tentang pekerjaan, perjalanan, masa lalu. Tetapi di setiap kata, ada jeda yang terlalu panjang, terlalu dalam. Di setiap tatapan, ada hal yang tidak diucapkan.
Saat musik berubah menjadi lebih lambat, Glen menatap Chelsea lama. “Kau tahu, semua ini terasa seperti déjà vu.”
“Ya,” balas Chelsea lirih, “hanya saja kali ini, kita di atas air, bukan di kantor.”
Mereka sama-sama tahu, kata “tidak boleh” tidak lagi berarti apa-apa malam itu.
Kapal yang Berhenti

Tengah malam, mesin kapal berhenti sesaat — hanya suara angin dan juga ombak yang terdengar. Sebagian tamu sudah tertidur, sebagian lagi mabuk. Chelsea berjalan sendirian ke dek atas, mencari udara segar.
Glen mengikuti diam-diam. Ia tidak tahu kenapa, tetapi langkah kakinya terasa seperti ditarik oleh sesuatu yang tak bisa ia lawan.
Chelsea berdiri di dekat pagar kapal, menatap laut gelap. “Lucu ya,” katanya tanpa menoleh, “semakin jauh dari daratan, justru semakin terasa dekat dengan diri sendiri.”
“Dan dengan yang seharusnya kau jauhi,” bisik Glen, suaranya berat.
Chelsea menutup mata. “Kau masih sama… selalu tahu kapan harus datang.”
Malam itu, mereka hanya berdiri bersebelahan, tak bicara banyak. Tetapi jarak di antara mereka semakin tipis — seperti laut yang menelan cahaya bulan.
Cinta Terlarang di Kapal Pesiar – Rahasia di Kabin

Pagi menjelang. Semua orang tidur lelap. Chelsea berjalan melewati lorong menuju kabinnya, tetapi langkahnya terhenti saat mendengar suara langkah di belakang. Glen.
Ia berhenti di depan pintu, memutar tubuh pelan.
“Glen…”
“Boleh aku bicara sebentar?”
Ia mengangguk, membuka pintu, dan membiarkan Glen masuk. Cahaya lembut dari jendela memantul di wajah mereka. Tidak ada musik, tidak ada tawa tamu. Hanya dua orang yang tidak tahu bagaimana harus melawan rasa yang tak mati.
“Kau tahu ini salah,” kata Chelsea pelan.
“Justru itu yang membuatnya nyata,” balas Glen.
Diam. Tatapan panjang. Napas tertahan.
Mereka berdiri begitu dekat, hanya sejengkal jarak — tetapi jarak itulah yang terasa paling menyiksa.
Ombak di Dalam Diri

Hari mulai terang. Kapal perlahan bergerak lagi. Dari dek atas, Glen memandangi laut biru sambil mengingat semua yang terjadi malam itu — pertemuan, tatapan, dan kata-kata yang tidak pernah selesai.
Chelsea muncul di sampingnya. Kali ini, tidak ada senyum, tidak ada tanya. Hanya keheningan yang terlalu berat untuk dipecah.
“Aku akan pulang ke daratan sore ini,” katanya pelan. “Dan kau… jangan mencariku lagi.”
Glen menatapnya, menahan kata-kata yang tak terucap.
“Sampai kapanpun, laut akan selalu mengingat langkah kita malam itu,” bisiknya.
Chelsea menatap laut sekali lagi — lalu pergi.
Dan saat kapal menjauh dari horizon, Glen tahu… beberapa kisah memang diciptakan hanya untuk satu malam, di atas laut yang terlalu tenang.
Cinta Terlarang di Kapal Pesiar – Di Balik Gelombang

Hari berikutnya, langit tampak mendung. Kapal Aurora Blue terus berlayar di tengah laut lepas, seolah menyembunyikan kisah yang tidak boleh diketahui siapa pun. Chelsea mencoba bersikap biasa — bercanda dengan tamu, berbicara dengan awak kapal — namun matanya sesekali mencari sosok Glen.
Di sisi lain dek, Glen memandangi laut dengan gelas kopi di tangan. Ia tahu, Cinta Terlarang di Kapal Pesiar ini bukan sekadar godaan sesaat. Ada perasaan yang belum padam sejak dulu, dan setiap ombak yang menghantam kapal hanya membuatnya semakin dalam.
Chelsea akhirnya menghampiri.
“Kau belum tidur?”
“Bagaimana bisa, kalau lautnya belum tenang,” jawab Glen pelan.
Mereka terdiam beberapa detik. Angin laut berembus lembut, membawa aroma garam dan juga kenangan lama. Dalam hati, keduanya tahu — badai belum benar-benar berlalu.
Surat yang Tak Pernah Dikirim

Sore hari, Chelsea menulis sesuatu di meja kecil di dalam kabinnya. Sebuah surat, tanpa nama penerima. Tangannya bergetar, tetapi setiap kata terasa melepaskan sebagian beban yang menekan dadanya.
“Aku mencintaimu, bahkan saat seharusnya aku berhenti. Kapal ini menjadi saksi bahwa cinta bisa muncul di tempat yang salah, dan tenggelam tanpa jejak.”
Saat selesai menulis, ia menatap surat itu lama, lalu menyimpannya di dalam laci. Ia tahu surat itu mungkin takkan pernah sampai — tetapi menulisnya membuat segalanya terasa nyata.
Di dek bawah, Glen melihat cahaya dari jendela kabin Chelsea. Ia ingin masuk, ingin bicara, tetapi menahan diri.
Ia hanya berbisik ke dirinya sendiri, “Mungkin Cinta Terlarang di Kapal Pesiar ini memang ditakdirkan untuk berakhir di sini.”
Namun di kedalaman hatinya, Glen tahu — belum ada yang benar-benar selesai.
Cinta Terlarang di Kapal Pesiar – Malam Kedua

Malam kedua di kapal pesiar itu terasa berbeda. Tak ada pesta, tak ada musik. Hanya bintang-bintang yang menatap diam dari langit. Glen berjalan di dek belakang, dan di sana, Chelsea sudah menunggunya. Gaun putihnya melambai pelan tertiup angin laut.
“Mengapa kau datang?” tanya Glen.
“Karena aku tahu kau di sini,” jawabnya jujur.
Mereka berdiri berhadapan. Tak ada lagi perdebatan, hanya keheningan yang menegaskan betapa kuatnya ikatan yang mereka sembunyikan. Setiap tatapan membawa pesan yang tidak terucapkan.
Chelsea mendekat, suaranya nyaris seperti bisikan.
“Kadang aku bertanya-tanya… kalau saja kita tidak pernah bertemu lagi di kapal ini.”
“Kita akan tetap saling mencari,” sahut Glen, menatapnya dalam.
Laut di bawah mereka bergelombang lembut — seolah ikut menyimpan rahasia Cinta Terlarang di Kapal Pesiar ini.
Ombak Rahasia

Keesokan paginya, badai datang tiba-tiba. Langit gelap, hujan turun deras. Semua tamu bersembunyi di dalam kabin. Glen berdiri di koridor, menatap pintu kabin Chelsea. Dalam situasi itu, semua alasan runtuh — hanya ada perasaan yang tersisa.
Ia mengetuk pelan, lalu masuk saat pintu terbuka.
Chelsea menatapnya, setengah kaget, setengah lega.
“Mengapa kau ke sini?”
“Karena aku tidak mau kehilanganmu lagi.”
Di tengah suara hujan dan juga gemuruh ombak, mereka berbicara tanpa suara. Semua emosi yang tertahan sejak lama tumpah di udara yang lembap dan dingin. Badai di luar hanyalah cerminan dari badai di dalam hati mereka.
Cinta Terlarang di Kapal Pesiar itu kini menjadi kenyataan yang tak bisa lagi mereka sembunyikan, meski hanya untuk malam itu saja.
Cinta Terlarang di Kapal Pesiar – Dermaga Terakhir

Pagi berikutnya, kapal Aurora Blue mulai merapat ke dermaga kecil. Langit sudah cerah, seolah badai semalam hanyalah mimpi. Chelsea berdiri di dek, mengenakan kacamata hitam, mencoba tampak tenang.
Kemudian Glen menghampiri perlahan.
“Jadi ini perpisahan?”
Chelsea tersenyum samar. “Bukan. Ini awal dari melupakan.”
Mereka berdiri berdampingan, memandangi daratan yang semakin dekat. Tidak ada kata cinta, tidak ada janji. Hanya kesadaran bahwa beberapa kisah memang harus berhenti di tempat di mana ia dimulai — di atas laut, di antara ombak dan juga langit.
Ketika kapal bersandar, Chelsea melangkah pergi tanpa menoleh. Glen menatapnya sampai sosoknya hilang di antara keramaian.
Namun dalam hati, ia tahu — Cinta Terlarang di Kapal Pesiar itu akan selalu hidup, bukan di dunia nyata, tetapi di ingatan yang tak bisa dihapus oleh waktu.
Kota yang Terlalu Tenang

Beberapa hari setelah kapal Aurora Blue berlabuh, Glen berjalan di trotoar kota pesisir yang sunyi. Langit sore berwarna oranye, dan juga suara ombak samar-samar masih terdengar dari kejauhan. Semua hal yang dilihatnya mengingatkan pada satu nama — Chelsea.
Ia pikir semuanya berakhir di dermaga, tetapi nasib ternyata belum puas bermain. Sebuah pesan singkat muncul di ponselnya.
“Aku di Hotel Serene, kamar 408. Hanya malam ini.”
Glen berhenti sejenak, menatap layar ponselnya lama. Lalu tanpa pikir panjang, ia berbalik arah, langkahnya cepat tetapi ragu. Ia tahu betul, Cinta Terlarang di Kapal Pesiar itu belum selesai. Malam ini, mungkin justru akan jadi klimaksnya.
Cinta Terlarang di Kapal Pesiar – Di Balik Pintu 408

Lorong hotel itu sunyi, hanya terdengar suara pendingin udara. Glen berhenti di depan pintu bernomor 408. Tangannya sempat gemetar sebelum mengetuk pelan.
Pintu terbuka.
Chelsea berdiri di sana — rambutnya dibiarkan terurai, wajahnya tenang tetapi matanya menyimpan badai.
“Kau datang,” katanya lirih.
“Harusnya tidak,” jawab Glen. “Tetapi aku tahu aku akan menyesal kalau tidak datang.”
Mereka berdiri berhadapan, jarak di antara mereka begitu tipis hingga napas terasa berbaur. Tidak ada kata cinta yang diucapkan, tetapi udara di antara mereka begitu padat dengan rasa yang sulit dijelaskan.
Chelsea melangkah mundur pelan, memberi ruang bagi Glen untuk masuk. Di ruangan itu, lampu temaram memantulkan cahaya lembut, menciptakan atmosfer yang sama seperti malam-malam di kapal pesiar — namun kali ini tanpa laut, tanpa saksi, tanpa alasan untuk berpura-pura.
Antara Rasa dan Rahasia

Waktu terasa berjalan lambat. Mereka berbicara sedikit — tentang kapal, tentang laut, tentang kenangan yang tak bisa hilang. Namun di setiap jeda, tatapan mereka saling menembus diam.
“Kau tahu kenapa aku memanggilmu malam ini?” tanya Chelsea perlahan.
Glen menatapnya dalam. “Karena kau juga tidak bisa melupakannya.”
Chelsea tersenyum tipis. “Atau mungkin karena aku ingin mengakhirinya dengan cara yang benar — bukan di antara ombak, tetapi di daratan, di dunia nyata.”
Hening menguasai ruangan. Cinta Terlarang di Kapal Pesiar kini menjadi bayangan yang hidup di antara dua jiwa yang tak bisa berpaling, meski tahu batas sudah lama dilewati.
Di luar, hujan mulai turun. Tetapi rintiknya mengetuk kaca jendela seperti irama yang mengiringi perpisahan.
Malam Terakhir

Malam itu berjalan seperti mimpi. Lampu kamar menyala redup, hujan tak kunjung reda. Glen dan Chelsea duduk bersebelahan di tepi ranjang, tanpa bicara. Kadang, keheningan jauh lebih jujur dari kata-kata.
Chelsea akhirnya bersuara. “Besok aku akan kembali ke suamiku.”
Glen hanya mengangguk. “Dan aku akan pura-pura tidak mengenalmu lagi.”
Ia menoleh, menatap wajah Chelsea yang tampak lelah tetapi tetap anggun. “Aku tidak menyesal apa pun,” katanya jujur.
Chelsea tersenyum samar. “Aku pun tidak. Cinta Terlarang di Kapal Pesiar itu mungkin kesalahan, tetapi bagiku… itu juga kebenaran.”
Mereka saling menatap, lama, hingga waktu seolah berhenti di antara desah napas dan juga detak jantung yang tak seirama. Tidak ada yang mencoba melawan — hanya membiarkan malam menjadi saksi terakhir mereka.
Cinta Terlarang di Kapal Pesiar – Setelah Semua Usai

Pagi datang dengan cepat. Hujan berhenti, dan juga sinar matahari menembus tirai kamar. Chelsea sudah berpakaian rapi, berdiri di depan cermin, sementara Glen duduk di kursi, menatapnya tanpa berkata.
“Aku harus pergi,” katanya pelan.
“Ya,” jawab Glen singkat.
Ia berdiri, berjalan mendekat, lalu berhenti di belakangnya. Untuk sesaat, mereka hanya berdiri dalam diam, memandangi refleksi masing-masing di cermin. Tidak ada lagi yang bisa diucapkan.
Kemudian Chelsea menatap bayangannya sendiri, lalu berbisik, “Terima kasih sudah datang.”
Glen menjawab lirih, “Terima kasih sudah memanggilku.”
Ia membuka pintu, dan suara langkahnya menghilang di lorong panjang.
Saat itu, Glen tahu — Cinta Terlarang di Kapal Pesiar sudah benar-benar berlabuh, tetapi kenangannya akan selalu mengapung di lautan yang tak pernah tenang di dalam hatinya.








