Emulator Slot Akun Demo Terpercaya
Mbak PRT Yang Hot adalah Cerita Dewasa yang bergairah dan yang sangat di ingin kan oleh kebanyakan laki laki, tanpa berlama lama langsung saja ke ceritanya ya.
nama aku Kevin, aku anak tunggal di keluarga dan umurku saat itu 21 tahun. Kedua org tua ku sama sama sibuk, ayah ku sering keluar kota dalam waktu yang lama akdang sebulan sekali baru balik karena urusan pekerjaan sedangkan ibu sibuka karena seorang guru dan sekaligus guru privat jadi sepulang ngajar dia lanjut ke kelas privat sampai jam 8 malam baru kembali keruamh.
Karena begitu sibuknya kedua orang tua ku jadi tidak ada waktu dirumah untuk mengurus rumah jadi mereka memutuskan memperkerjakan PRT (pembantu rumah tangga) di rumah kami, dengan menyebar atau meng share loker di sosial media. Dan kelang 2 hari saja sudah ada yang menelepon ke nomor aku karena mamaku mencantukan nomor aku juga untuk jaga jaga kalau dia tidak bisa menjawab telepon. Tidak butuh lama setelah aku menelepon mama dan mama suruh aku berangkatkan kerumah kami karen ayang menelepon itu org desa sedang rumah kami di bagian kotanya.
Mbak PRT Yang Hot sampai dirumah kami.

Setelah sampai di rumah kami dan kebetulan sampainyamalam hari dan mama pun sudah pulang dari kelas les privatnya dan mama langsung interview wanita tersebut dan langsung diterima bekerja di rumah kami. Panggil saja namanya Mbak Ara, dia ada lah janda 2 anak yang di tinggal meninggal oleh suaminya, dia masih berumur 3o tahunan jadi masih tampak muda dan perwakannya sangat cantik. Aku saja tidak menyaka akan dapat PRT seperti ini karena tubuhnya yang godd dengan dada yang berukuran besar sekaligus bokongnya yang sangat berbentuk bisa dibilang Mbak Ara memiliki body goals.
Karena aku masih mahasiswa jadi aku lebih banyak waktu dirumah karen aku sepulang ngampus tidak pernah keluar kecuali weekend saja, jadi aku hanya berdua dengan Mbak Ara di rumah, Mbak Ara sangat ramah dan rajin sekali, ketika aku pulang ngampus dia sealu menanyakan mau dimasakin apa, karena waktu sebelum ada PRT aku sering masak sendiri jadi aku pun hobi masak masak.
Waktu Mbak Ara bertanya aku pun ingin di buat kan nasi goreng, waktu dia masak aku pun kedapur untuk melihat apa lagi yang bisa dimakan, aku pun memperhatikan Mak Ara kesusahan mengambil minyak goreng yang di atas lemari, aku pun datang untuk membantu tapi karena sangking tingginya aku juga tidak sampai. Akupun menyuruh Mbak Ara mengambil kursi, ketika sampai aku langsung mengmbilnya, dan betapa terkejutnya aku melihat apa yang di dalam datser Mbak ara terlihat buah dada yang begitu besar karena kancing atas dasternya terlepas satu.
Setelah kejadian tadi aku langsung terbayang bayang Mbak Ara, setelah makan aku langsung masuk kamar dan onani dengan membayangkan Mbak Ara. Belum lagi crot tiba tiba Hp aku berbunyi ternyata yang menelepon mama.
“vin, mama malam ini tidak pulang, jaga rumah ya” Mama berbicara dengan nada agak panik
“Kenapa ma? kok kayak panik gtu?” aku bertanya.
“engga apa apa…. Nenek kamu sakit jadi mama malam ini menginap tempat nenek”
“oiyaudah ma, aman ko, pasti kevin jaga rumahnya” aku menjawab
Hari menjelang malam aku pun mengerjakan tugas kampus ku, dan tiba tiba ada yang mengetuk pintu kamar ku dan ternyata Mbak Ara.
“Mass… Masss….” Mbak Ara memanggil.
“iya mbak buka saja ngga apa apa” aku menyaut.
“Mas ibu malam ini pulang jam berapa ya? soalnya Mbak mau kunci pintunya karna udah jam segini takut ada maling” mbak Ara panik.
“Owh yaudah kunci aja Mbak, Mama nginap tempat nenek jadi tidak pulang” balasku.
“Oke mass, oiya mass kalau mau makan Mbak udh siapain di meja makan ya?” dia bertanya
“Iya Mbak makasih ya, entar lagi aku makan kok” jawab ku.
“Baik mass…. kalau gitu Mbak balik ke kamar dulu ya?” dia ijin.
“Oke Mbak” jawabku.
disini lah awal mula cerita Mbak PRT Yang Hot dimulai.

Setelah tugas ku selesai aku pun ke dapur untuk makan, tetapi makananya sangat banyak, tidak mungkin aku habiskan semua. Aku pun ke kamar Mbak Ara untuk menyuruh dia bantu makan. Saat sesampai depan kamarnya aku pun mengetuk tapi tidak ada suara jadi aku masuk saja dan tidak ada orang. Dan tiba tiba ada yang membuka pintu kamar mandi, aku kaget karena Mbak Ara keluar cuma memakai handuk saja dandan sangat pendek.
“Aduh maaf Mbak, tadi aku mau panggil engga ada suara jadi aku langsung masuk” jawab ku kaget.
“Iya gak apa apa kok mas, ada apa ya mass?” dia bertanya.
“itu Mbak masak banyak banget, mana bisa aku abisin, yok bantu mbak”
“Iya mass biasa kan ada ibu, Mbak gak tau kalau ibu gak pulang”
“yauda selesai pakai baju entar ke meja makan ya Mbak?”
“Baik mas kevin”
Aku pun duluan ke meja makan dan Mbak Ara pun setelah pakai baju dia langsung meja makan, “Ayo Mbak makan dulu, enatar gak abis sayang ni” aku menuruhnya makan. “Tapi mas…. Mbak tadi udh makan” jawabnya. aku pun menyuruhnya makan lagi, dia pun menagmbil makanan dan mau pergi ke kamar
“Eh Mbak mau ke mana? gak papa makan aja disini” tanyaku.
“Mbak gak enak mas. massa makan dengan Mas Kevin di meja mekan”
“Udah gak apa apa kok Mbak, aku gak masalah kok”
“gak papa Mas, Mbak makan di kamar aja sekalian nonton TV” dia menjawab.
“Ada film seru ya Mbak?” tanyaku dengan antusias.
“hehe…. iya mass, drakor”
“Nonton bareng dong Mbak”
“Emang Massnya suka Drakor?” tanyanya kaget
“Eh jangan salah Mbak hahah” aku tertawa.
“Yaudah tapi kamar Mbak agak berantakan karna belum sempat di beresi tadi Mas”
“Alah gausah dipikirin kali Mbak”
Sehabis ambil makan kami pun menuju kamar Mbak Ara. Saat nonton Mbak Ara merasa canggung, aku bilang “sudah tidak usah segan Mbak, sudah nonton kayak biasa aja” aku menyuruhnya agar bisa tenang “iya Mass” jawabnya grogi, makanan pun habis jadi dia kedapur untuk menaruh piring kotor. Tanpa sadar aku pun berbaring di ranjang Mbak Ara, waktu Mbak Ara balik kekamar dia biasa aja dan langsung fokus nonton. Dia fokus menonton tv tetapi aku malah fokus ke dada Mbak Ara yang menjol di balik dasternya itu.
Karena saat itu aku sedang berbaring jadi tanpa sadar kontol aku menegang dan tiba tiba Mbak Ara Melirik ke arah kontol ku, aku pun jadi malu dan aku ijin balik ke kamar ku. Dan esok malamnya pun mama belum juga piulang karena masih harus menginap tempat nenek. Jadi aku berduaan lagi sama Mbak Ara di rumah.
Disini lah kejadiannya aku bermain dengan Mbak PRT Yang Hot

Seperti Biasa Mbak Ara mengetuk pintu kamar untuk menyuruh makan malam, tetapi sebelum dia berbicara aku suruh masuk dan langsung menarik Mbak Ara dan mencium Mbak Ara, tapi dia malah diam saja walapun sedikit kaget. Mungkin gara gara kemaren dia melihat KOntol aku yang tegak dan tampak besar walapun masih di dalam sangkar.
Malam di ranjangku yang besar kami saling berpelukan. Aku bertelanjang dada dan Mbak Ara gunakan daster. Masih selama jam 9 waktu tersebut dan kami terus asyik berciuman, berpagutan, berdekapan erat-erat saling raba, pijat, remas.
Kuselusupkan tanganku di bawah dasternya kemudian menariknya ke atas. Terus ke atas sampai pahanya menganga, perutnya tersingkap dan kesudahannya BH putihnya nampak menantang. Tanpa bicara dasternya terus kulepas lewat kepalanya.
“Jangan, Mas..” Mbak Ara menolak.
“Nggak apa-apa, Mbak, hanya dasternya kan..” rayuku.
Dia jadi mencungkil tanganku. Juga diam saja saat aku terang-terangan membuka celana luarku sampai kami kini tinggal berpakaian dalam. Kembali tubuh gempal janda montok tersebut kugeluti, kuhisap-hisap puncak branya yang nampak kekecilan menampung teteknya. Mbak Ara mendesis-desis seraya meremasi rambut kepalaku dan menggapitkan pahanya kuat-kuat ke pahaku.
“Mbak Ara pingin aku telanjang?” tanyaku.
“Jangan, Mas. Pingin sih pingin.. tapi.. gimana ya..”
“Sudah berapa lama Mbak Ara tidak ngeseks?”
“Ya semenjak suami Mbak meninggal.. kira-kira tiga tahun..”
“Pasti Mbak jadi jarang masturbasi ya?”
“Kadang-kadang bila sudah nggak tahan, Mas..”
“Kalau main dengan lelaki lain?”
“Belum pernah, Mas..”
“Masak sih, Mbak? masak nggak dapat yang mau?”
“Bukan begitu, namun aku yang nggak mau, Mas..”
“Kalau sama aku kok inginkan sih, Mbak?” godaku lagi.
“Ah, kan Mas yang mulai.. dan lagi, nggak sampai anu..”
“Anu apa, Mbak?”
“Ya itu.. telanjang gitu..”
“Sekarang anda telanjang ya, Mbak..”
“Eee.. kalok hamil gimana, Mas?”
“Aku pake kondom deh..”
“Ng.. tapi kan dosa, Mas?”
“Kalau yang ini dosa nggak, Mbak?” tanyaku mentesnya.
“Eee.. sedikit, Mas,” jawabnya bingung.
Aku memaksa secara halus untuk bermain dengan Mbak PRT Yang Hot

Aku tersenyum mendengar jawaban mengambang tersebut dan kembali mendekap erat-erat tubuh sekalnya yang menggemaskan. Kuremas dan kucium-cium pembungkus teteknya. Ia mendekap punggungku lebih erat. Kuraba-raba belakang punggungnya menggali lalu melepas kaitan branya.
“Ja..jangan, Mas..” Bisiknya tanpa reaksi menampik dan kulanjutkan gerakanku.
Mbak Ara melulu melenguh kecil saat branya kutarik dan kulemparkan entah kemana. Dua buah semangka segar tersebut langsung kukemut-kemut putingnya. Kuhisap, kumasukkan mulut sebesar-besarnya, kugelegak, seraya kulepas CD-ku. Mbak Ara terus mendesis-desis dan bergetar-getar tubuhnya. Kami bergumul berguling-guling. Kutekan-tekan selangkangannya dengan zakarku.
“Gimana, Mbak.. telah siap kuperawani?” tanganku mencapai CD-nya dan berkeinginan melepasnya.
“Jangan, Mas. Kalau hamil gimana?”
“Ya dirindukan saja sampai bermunculan to, Mbak..” gurauku sambil berjuang menarik lepas CD-nya.
Mbak Ara berjuang memegangi CD-nya namun seranganku di unsur atas tubuhnya membuatnya geli dan tangannya jadi lengah. Cd-nya juga merosot melalui pantatnya.
“Kalau hamil, siapa yang ngurus bayinya?”
“Ya, Mbak lah, kan anak mbak.. tugasku kan cuma buat anak, bukan ngurusi anak..” godaku terus.
“Dasar, inginkan enaknya sendiri..” Mbak Ara memukulku pelan, tangannya berjuang menjangkau CD dari bawah pahanya namun kalah cepat dengan gerakanku melepas CD tersebut dari kakinya. Buru-buru kukangkangkan pahanya kemudian kubenamkan lidahku ke situ. Slep.. slep.. slep.. Mbak Ara melenguh dan menggeliat lagi seraya meremasi kepalaku. Nampak dia berada dalam kenikmatan.
Beberapa menit kemudian, aku memutar posisi tubuhku hingga batang zakarku tepat di mulutnya sedangkan lidahku tetap beroperasi di vaginanya. Dengan agak canggung-canggung dia mulai menjilati, mengulum dan menghisapnya. Vaginanya mulai basah, zakarku menegang panjang. Eksplorasi dengan lidah kuteruskan sedangkan tanganku memijit-mijit selama selangkangan sampai anusnya.
“Agh.. agh.. Maas.. ak.. aku..”
Mbak Ara tak dapat bersuara lagi, melulu pantatnya terasa kejang berkejat-kejat dan mengalirlah cairan maninya mengaliri mulutku. Kugelegak sampai berakhir cairan jernih itu.
“Isap anuku lebih keras, Mbak!” perintahku saat kurasakan maniku pun sudah di ujung zakar.
Dan benar saja, begitu diisap lebih keras sebentar lantas spermaku menyembur masuk ke kerongkongan Mbak Ara yang buru-buru melepasnya hingga mulutnya tersedak berlepotan sperma. Kami juga terjelepak kelelahan. Kuputar tubuhku lagi dan malam tersebut kami istirahat telanjang berdekapan untuk kesatu kalinya. Tetapi zakarku tetap tidak memerawani vaginanya. Aku masih hendak menyimpan “makanan terenak” tersebut berlama-lama.
Bermain dengan Mbak PRT Yang Hot berlanjut.

Selanjutnya pekerjaan oral seks jadi hobi kami masing-masing setiap hari. Entah pagi, siang maupun malam bila di antara dari kami (biasanya aku yang berinisiatif) hendak bersetubuh ya langsung saja tancap. Entah tersebut di kamar, seraya mandi bareng atau bergulingan di permadani. Tiap hari kami mandi keramas dan entah berapa tidak sedikit bercak mani di permadani.
Selama aku masih tahan untuk memasukkan kepala zakarku ke vaginanya kemudian kutarik lagi. Batangnya tidak hingga masuk walau kadang Mbak Ara sudah pingin dan menekan pantatku. “Kok nggak jadi masuk, Mas?”
“Apa Mbak siap hamil?”
“Kan aku bisa minum pil KB to Mas..”
“Bener nih Mbak rela?”
“He eh, Mas,” dia mengangguk.
“Mbak nggak merasa bersalah sama suami?”
“Kan telah meninggal, Mas.”
“Sama anak-anak?”
Ia terdiam sesaat, kemudian jawabnya lirih, “A.a.. aku kan pun masih perlu seks, Mas..”
“Mana yang Mbak butuhkan, seks atau suami?” tanyaku terus hendak tahu isi hatinya.
Kuangkat lagi kepala zakarku dari mulut memeknya kemudian kusisipkan saja di sela-sela pahanya.
“Pinginnya sih suami, Mas.. namun kalo Mas jadi suamiku kan nggak barangkali to.. Aku ini kan hanya orang desa dan pembantu..” jawabnya jujur.
“Jadi, bila sama aku cuma perlu seksnya aja ya Mbak? Mbak cuma perlu nikmatnya kan? pingin dapat orgasme tiap hari kan?”
Mbak Ara tersipu. Tidak menjawab justeru memegang kepalaku dan menyosor bibirku dengan bibirnya. Kami pun berpagutan dan bergulingan. Zakar besar tegangku terjepit di sela pahanya kemudian cepat-cepat aku berbalik tubuh dan memasukkan ke mulutnya.
Hubungan nikmat ini terus dilangsungkan hingga suatu senja sepulangku ngampus Mbak Ara memberiku sekaplet pil KB dan sekotak kondom kepadaku.
“Sekarang terserah Mas, inginkan pakai yang mana? Mbak telah siap..” tantangnya.
Aku jadi menginginkan penisku memompa vaginanya yang menggunduk itu.
“Mbak benar-benar ikhlas?” tanyaku.
“Lha memang selama ini apa Mas? Saya kan telah pasrah diapakan saja sama Mas.”
“Mbak tidak khawatir meskipun aku nggak bakalan jadi suami Mbak?” lanjutku seraya berjaga-jaga guna menghindari resiko bila terjadi sesuatu di belakang hari.
>>“Saya telah ikhlas, inginkan dikawini saja tiap hari atau dinikahi sekalian terserah Mas saja. Saya benar-benar tidak terdapat pamrih apa-apa di belakang nanti.. Saya melulu ingin kita bersangkutan seks dengan maksimal.. tidak setengah-setengah seperti kini ini..”
Ternyata Mbak PRT Yang Hot ini jugak nafsunya lagi berkobar

Haah, ternyata Mbak Ara juga jadi berkobar nafsu syahwatnya setelah bersangkutan seks denganku secara khusus belakangan ini. Ternyata perempuan ini memendam hasrat seksual yang besar juga. Sampai rela mengorbankan harga dirinya. Aku jadi tak tega, namun sekaligus senang sebab tidak akan menanggung resiko apapun dalam bersangkutan seks dengan dia.
Tanpa rasa cinta. Tidak butuh ada ketakutan terhadap resiko mesti menikahi, punya anak dsb. Kapan lagi aku bisa prt sekaligus pemuas nafsu dengan tarif semurah ini (gajinya sebulan 1,5 jt rupiah kadang kutambah 500 rb atau 1jt bila ada rejeki lebih). Bandingkan biayanya bila aku mesti cari perempuan penghibur diluar sana. Dan kayaknya inilah yang digemari para lelaki pengobral zakar.
“Sekarang aku inginkan mandi dulu, Mbak. Urusan tersebut pikirin nanti saja,” jawabku seraya melepas pakaian dan jalan ke kamar mandi bertelanjang.
Kutarik tangan Mbak Ara guna menemaniku mandi. Pakaiannya pun telah kulepasi sebelum kami hingga ke pintu kamar mandi. Hal laksana ini telah biasa kami lakukan. Saling menggosok dan memandikan sambil membangunkan nafsu-nafsu erotis kami. Dan acara mandi bareng selalu selesai dengan tumpahnya sperma dan mani kami bersama-sama sebab saling isep.
Dan godaan guna bermain seks dengan tuntas semakin besar sesudah ada pil KB dan kondom yang dibeli Mbak Ara. Esok malamnya percobaan itu bakal kami mulai dengan kondom lebih dulu. Soalnya aku takut bila ada efek samping bila Mbak Ara minum pil kabe. Kata orang bila nggak sesuai malah buat kering rahim. Kan kasihan bila orang semontok Mbak Ara rahimnya kering.
“Sekarang gunakan, Mas,” bisiknya sambil memegang erat penisku yang ereksi. “Dia eh,” jawabku, lalu dia meraih sebungkus kondom yang kau sediakan di dekat TV. “Wow, jadi kau tidak bisa menghisapnya, Mbak,” kataku. “Kaulah yang menghisap, bukan mulut bawahmu, Mas..” Leluconnya membuatku tersenyum sambil terus meremas payudaranya. “Baiklah, Mas,” katanya sambil meregangkan tubuhnya dan melebarkan pahanya. “Sekarang, Mbak,” bisikku sambil memeluknya dengan penuh kasih sayang. “Apakah sakit, Mbak?” “Sedikit..”
Kuhentikan sebentar kemudian kudorong lagi pelan-pelan dan dia mulai melepasnya. Bless.. slep.. kugerakkan pantatku maju-mundur naik-turun. Matanya merem melek, tangan kami berpelukan, tetek tergencet dadaku, bibir kami saling kulum. Kugenjot terus, kupompa, kubajak, kucangkul, kumasuki, kubenamkan, dalam dan semakin dalam, gencar, cepat dan kencang. Sampai kesudahannya gerakkanku terhambat saat mendadak Mbak Ara memelukkan pahanya erat-erat ke pinggangku.
Baca juga : Pinjaman Yang Memuaskan
“Semuanya… Aku akan pergi ke Mars… egh… egh…”
Dan seerr.. terasa cairan hangat menerpa zakarku. Kuhentikan gerakanku, dan melulu membenamkannya dalam-dalam. Menekan dan mengurangi masuk. Rasanya agak tidak cukup enak sebab batangku terbungkus karet tipis itu.
“Mbak pingin terbit lagi?” tanyaku.
“Klok.. bila bisa, Mas.. terbit sama-sama..” ajaknya seraya mulai menggoyang dan memutar-mutar bokongnya.
Aku menikmati nikmat yang belum pernah kurasakan. Soalnya kan baru kesatu kali ini zakarku menancapi lubangnya. Ternyata hebat pun goyangannya. Goyang ngebornya Inul, ngecornya Denada atau ngedancenya Camelia Malik kalah jauh deh.. soalnya mana barangkali aku ngrasain vagina mereka kan? Dan kenikmatan tersebut semakin terasa diujung batangku. Gerakan pompaku semakin cepat dan cepat.
“Mbak.. hh.. hh.. hh..” dengus nafasku terus memacu gerak maju mundur pantatku.
“Ak.. aku telah mau Mbak..” pelukku ketat ke tubuhnya.
Kutindih, kuhujamkan dalam-dalam, kuhentakkan saat sperma terbit dari ujung batangku. Yang tentu Mbak Ara tak bakalan menikmati semburannya sebab toh telah tertampung di ujung kondom. Sejenak lantas Mbak Ara juga meregang dan berkejat-kejat sejumlah kali seraya membeliak-beliak matanya. Dia orgasme lagi. Tubuhnya tetap kutelungkupkan. Nafas kami memburu.
Dan sekian dari Cerita Mbak PRT Yang Hot. Novel Asupan








