Gadis Alfamart Diperkosa Bergilir

Gadis Alfamart Diperkosa Bergilir | novelasupan.com – Savira yang masih berumur 22 tahun tidak menyadari bahaya nya bekerja sebagai kasir di sebuah toko serba ada yang beroperasi 24 jam di Bandung. Tapi karena semangat dan keinginan untuk mandiri membuat dirinya tidak mempedulikan nasehat orang tuanya yang merasa kuatir melihat putriya sering mendapat giliran jaga di malam hari hingga pagi hari.

Savira lebih suka bekerja pada shift di jam tersebut, Karena dari saat tengah malam sampai pagi biasanya jarang sekali ada pembeli, sehingga Savira bisa belajar untuk materi kuliahnya siang nanti. Sampai akhirnya pada suatu malam terjadilah pemerkosaan itu.

Savira mendapati dirinya ditodong oleh sepucuk pistol tepat di depan matanya. Yang berambut Gondrong (sebut saja Budi) , dan yang satu lagi tubuhnya Kurus (sebut saja si Rudi ). Mereka berdua, menerobos masuk membuat Savira yang sedang berkonsentrasi pada bukunya terkejut.

Gadis Alfamart Diperkosa Bergilir | novelasupan.com

“Keluarin uangnya cepet !” perintah si Budi, sementara si Rudi memutuskan semua kabel video dan telepon yang ada di toko itu. Tangan Savira gemetar berusaha membuka laci kasir yang ada di depannya, saking takutnya kunci itu sampai terjatuh beberapa kali. Setelah beberapa saat,

Savira berhasil membuka laci itu dan memerikan semua uang yang ada di dalamnya, sebanyak 100 ribu kepada si Budi, Savira tidak diperkenankan menyimpan uang lebih dari 100 ribu di laci tersebut. Karena itu setiap kelebihannya langsung dimasukan ke lemari besi. Setelah si Budi merampas uang itu, Savira langsung mundur ke belakang, ia sangat ketakutan kakinya lemas, hampir jatuh.

“Masa cuma segini?!” bentak si Budi.
“Buka lemari besinya! Sekarang!” Mereka berdua menggiring Savira masuk ke kantor manajernya dan mendorongnya hingga jatuh berlutut di hadapan lemari besi. Savira mulai menangis, ia tidak tahu nomor kombinasi lemari besi itu, ia hanya menyelipkan uang masuk ke dalam lemari besi melalui celah pintunya.

“Cepat!!!” bentak si Rudi,
Savira merasakan pistol menempel di belakang kepalanya. Savira berusaha untuk menjelaskan kalau ia tidak mengetahui nomor lemari besi itu. Untunglah, melihat mata Savira yang ketakutan, mereka berdua percaya.

“Brengsek!!!! Nggak sebanding sama resikonya! Ayo…Iket dia, biar dia nggak bisa panggil polisi!!!” Savira di dudukkan di kursi manajernya dengan tangan diikat ke belakang. Kemudian kedua kaki Savira juga diikat ke kaki kursi yang ia duduki. si Rudi kemudian mengambil plester dan menempelkannya ke mulut Savira.

“Beres! Ayo cabut!”
“Tunggu! Tunggu dulu rud! Liat dia, dia boleh juga ya?!”.
“Cepetan! Ntar ada yang tau! Kita cuma dapet 100 ribu, cepetan!”.
“Aku pengen liat bentar aja!”.

Mata Savira terbelalak ketika si Budi mendekat dan menarik t-shirt merah muda yang ia kenakan. Dengan satu tarikan keras, t-shirt itu robek membuat BH-nya terlihat. Payudara Savira yang berukuran sedang, bergoyang-goyang karena Savira meronta-ronta dalam ikatannya.

“Wow, oke banget!” si Budi berseru kagum.
“Oke, sekarang kita pergi!” ajak si Rudi, tidak begitu tertarik pada Savira karena sibuk mengawasi keadaan depan toko.

Tapi si Budi tidak peduli, ia sekarang meraba-raba puting susu Savira lewat BH-nya, setelah itu ia memasukkan jarinya ke belahan payudara Savira. Dan tiba-tiba, dengan satu tarikan BH Savira ditariknya, tubuh Savira ikut tertarik ke depan, tapi akhirnya tali BH Savira terputus dan sekarang payudara Savira bergoyang bebas tanpa ditutupi selembar benang pun.

“Jangan!” teriak Savira. Tapi yang tedengar cuma suara gumaman. Terasa oleh Savira mulut si Budi menghisapi puting susunya pertama yang kiri lalu sekarang pindah ke kanan. Kemudian Savira menjerit ketika si Budi mengigit puting susunya.

“diam! Jangan berisik!” si Budi menampar Savira, hingga berkunang-kunang. Savira hanya bisa menangis.
“Aku bilang diam!”, Sambil berkata itu si Budi menampar buah dada Savira, sampai sebuah cap tangan berwarna merah terbentuk di payudara kiri Savira.

Cerita Pengalamanya nyata | novelasupan.com

Kemudian si Budi bergeser dan menampar uang sebelah kanan. Savira terus menjerit-jerit dengan mulut diplester, sementara si Budi terus memukuli buah dada Savira sampai akhirnya bulatan buah dada Savira berwarna merah.

“Ayo, cepetan !”, si Rudi menarik tangan si Budi.
“Kita musti cepet minggat dari sini!” Savira bersyukur ketika melihat si Budi diseret keluar ruangan oleh si Rudi.

Payudaranya terasa sangat sakit, tapi Savira bersyukur ia masih hidup. Melihat sekelilingnya, Savira berusaha menemukan sesuatu untuk membebaskan dirinya. Di meja ada gunting, tapi ia tidak bisa bergerak sama sekali.

“Hey, Brooo! Tokonya kosong!”.
“Masa, cepetan ambil permen!”.
“Goblok Banget lo, cepetan ambil bir tolol!”.

Tubuh Savira menegang, mendengar suara beberapa anak-anak di bagian depan toko. Dari suaranya ia mengetahui bahwa itu adalah anak-anak berandal yang ada di lingkungan itu. Mereka baru berusia sekitar 12 sampai 15 tahun. Savira mengeluarkan suara minta tolong.

“ssssstt! Lo denger nggak?!”.
“Cepetan kembaliin semua!”.
“Ayooo….lari, lari! Kita ketauan!”.

Tiba-tiba salah seorang dari mereka menjengukkan kepalanya ke dalam kantor manajer. Ia terperangah melihat Savira, terikat di kursi, dengan t-shirt robek membuat buah dadanya mengacung ke arahnya.

“Buset!” berandal itu tampak terkejut sekali, tapi sesaat kemudian ia menyeringai.
“Hei, liat nih! Ada kejutan!”

Savira berusaha menjelaskan pada mereka, menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia berusaha menjelaskan bahwa dirinya baru saja dirampok. Ia berusaha minta tolong agar mereka memanggil polisi. Ia berusaha memohon agar mereka melepaskan dirinya dan menutupi dadanya. Tapi yang keluar hanya suara gumanan karena mulutnya masih tertutup plester.

Satu demi satu berandalan itu masuk ke dalam kantor. Satu, kemudian dua, lalu tiga. Empat. Lima! Lima wajah-wajah dengan senyum menyeringai sekarang mengamati tubuh Savira, yang terus meronta-ronta berusaha menutupi tubuhnya dari pandangan mereka. Berandalan, yang berumur sekitar 15 tahun itu terkagum-kagum dengan penemuan mereka.

“Gila! Cewek nih!”.
“Dia telanjang!”.
“Tu liat susunya! susu!”.
“Mana, mana Aku pengen liat!”.
“Aku pengen pegang!”.
“Pasti alus tuh!”.
“Bawahnya kayak apa yaaa?!”.

Mereka semua berkomentar bersamaan, kegirangan menemukan Savira yang sudah terikat erat. Kelima berandal itu maju dan merubung Savira, tangan-tangan meraih tubuh Savira. Savira tidak tahu lagi, milik siapa tangan-tangan tersebut, semuanya berebutan mengelus pinggangnya, meremas buah dadanya, menjambak rambutnya, seseorang menjepit dan menarik-narik puting susunya. Kemudian, salah satu dari mereka menjilati pipinya dan memasukan ujung lidahnya ke lubang telinga Savira.

“Ayooo, kita lepasin dia dari kursi!” Mereka kemudian melepaskan ikatan pada kaki Savira, tapi dengan tangan masih terikat di belakang, sambil terus meraba dan meremas tubuh Savira. Melihat ruangan kantor itu terlalu kecil mereka menyeret Savira keluar menuju bagian depan toko. Savira meronta-ronta ketika merasa ada yang berusaha melepaskan kancing jeansnya.

Cerita nyata | novelasupan.com

Mereka menarik-narik celana jeans Savira sampai akhirnya turun sampai ke lutut. Savira terus meronta-ronta, dan akhirnya mereka berenam jatuh tersungkur ke lantai. Sebelum Savira sempat membalikkan badannya, tiba-tiba terdengar suara lecutan, dan sesaat kemudian Savira merasakan sakit yang amat sangat di pantatnya. Savira melihat salah seorang berandal tadi memegang sebuah ikat pinggang kulit dan bersiap-siap mengayunkannya lagi ke pantatnya!

“Hei….Bangun! Bangun!” ia berteriak. Savira berusaha berguling melindungi pantatnya yang terasa sakit sekali. Tapi berandal tadi tidak peduli, ia kembali mengayunkan ikat pinggang tadi yang sekarang menghajar perut Savira.

“Bangun! naik ke sini!” berandal tadi menyapu barang-barang yang ada di atas meja layan hingga berjatuhan ke lantai. Savira berusaha bangun tapi tidak berhasil. Lagi, sebuah pukulan menghajar buah dadanya. Savira berguling dan berusaha berdiri dan berhasil berlutut dan berdiri. Berandal tadi memberikan ikat pinggang tadi kepada temannya. “Kalo dia gerak, pukul aja!”

Langsung saja Savira mendapat pukulan di pantatnya. Berandal-berandal yang lain tertawa dan bersorak. Mereka lalu mendorong dan menarik tubuhnya, membuat ia bergerak-gerak sehingga mereka punya alasan lagi buat memukulnya. Berandal yang pertama tadi kembali dengan membawa segulung plester besar. Ia mendorong Savira hingga berbaring telentang di atas meja.

Pertama ia melepaskan tangan Savira kemudian langsung mengikatnya dengan plester di sudut-sudut meja, tangan Savira sekarang terikat erat dengan plester sampai ke kaki meja. Selanjutnya ia melepaskan sepatu, jeans dan celana dalam Savira dan mengikatkan kaki-kaki Savira ke kaki-kaki meja lainnya. Sekarang Savira berbaring telentang, telanjang bulat dengan tangan dan kaki terbuka lebar menyerupai huruf X.

“Waktu Pesta!” berandal tadi lalu menurunkan celana dan celana dalamnya. Mata Savira terbelalak melihat penisnya menggantung, setengah keras sepanjang 20 senti. Berandal tadi memegang pinggul Savira dan menariknya hingga mendekati pinggir meja. Kemudian ia menggosok-gosok penisnya hingga berdiri mengacung tegang.

“Waktunya masuk!” ia bersorak sementara teman-teman lainnya bersorak dan tertawa. Dengan satu dorongan keras, penisnya masuk ke vagina Savira. Savira teriak kesakitan. Air mata meleleh turun, sementara berandal tadi mulai bergerak keluar masuk.

Temannya naik ke atas meja, menduduki dada Savira, membuat Savira sulit bernafas. Kemudian ia melepaskan celananya, mengeluarkan penisnya dari celana dalamnya. Plester di mulut Savira ditariknya hingga lepas. Savira berusaha berteriak, tapi mulutnya langsung dimasuki oleh penis berandal yang ada di atasnya.

Langsung saja, penis tadi mengeras dan membesar bersamaan dengan keluar masuknya penis tadi di mulut Savira. Pandangan Savira langsung berkunang-kunang dan merasa akan pingsan, ketika tiba-tiba saja mulutnya dipenuhi cairan kental, yang terasa asin dan pahit sekali . Semprotan demi semprotan masuk ke mulut Savira, tanpa bisa dimuntahkan lagi oleh Savira. Ia terus menelan cairan tadi agar bisa terus bernafas.

Tiba-tiba saja Berandal yang duduk di atas dada Savira turun, lalu berandal memasukkan penisnya ke vagina Savira dan mendorong Savira di pinggir meja lalu menggenjot memek Savira Dengan tempo makin cepat. Ia juga memukuli perut Savira, membuat Savira mengejang dan vaginanya berkontraksi menjepit penisnya. Ia kemudian memegang buah dada Savira sambil terus bergerak makin cepat, ia mengerang-erang mendekati klimaks.

Cerita Nyata 2026| novelasupan.com

Tangannya langsung meremas dan menarik buah dada Savira ketika tubuhnya bergetar dan sperma tiba-tiba menyemprot keluar, terus-menerus mengalir masuk di vagina Savira. Sedangkan berandal yang lainnya berdiri di samping meja dan melakukan masturbasi, Dan ketika pimpinan mereka mencapai puncaknya mereka juga mengalami ejakulasi bersamaan. Sperma mereka menyemprot keluar dan jatuh di muka, rambut dan dada Savira.

Beberapa saat berlalu dan Savira tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, ketika tahu-tahu ia kembali sendirian di toko tadi, masih terikat erat di atas meja. Ia tersadar ketika menyadari dirinya terlihat jelas, jika ada orang lewat di depan tokonya.

Savira meronta-ronta membuat buah dadanya bergoyang-goyang. Ia menangis dan meronta berusaha melepaskan diri dari plester yang mengikatnya. Setelah beberapa lama mencoba Savira berhasil melepaskan tangan kanannya. Kemudian ia melepaskan tangan kirinya, kaki kanannya. Tinggal satu lagi nih.

“Wah, wah, waaaaah!!!” terdengar suara laki-laki yang berdiri di pintu depan. Savira sangat terkejut dan berusaha menutupi buah dada dan vaginanya dengan kedua tangannya.
“Tolong saya!” ratap Savira.
“Tolong saya Pak! Toko saya dirampok, saya diikat dan diperkosa Pak! Tolong saya Pak, cepat panggilkan polisi!”
“Nama lu Savira kan?” tanya laki-laki tadi.

“Ba…bagaimana bapak tahu nama saya?” Savira bingung dan takut.
“Aku Tomy. Orang yang dulunya kerja di toko ini sebelum kau rebut!”.
“Tapi saya tidak merebut pekerjaan bapak. Saya tahunya dari iklan di koran. Saya betul-betul tidak tahu pak! Tolonglah saya pak!”.
“Gara-gara kamu ngelamar ke sini Aku jadi dipecat! Aku nggak heran kamu diterima kalo liat bodi mu”.

Savira kembali merasa ketakutan saat melihat Tomy, seseorang yang belum pernah dilihat dan dikenalnya tapi sudah membencinya. Savira kembali berusaha melepaskan ikatan di kaki kirinya, membuat Tomy naik pitam. Ia menyambar tangan Savira dan menekuknya ke belakang dan kembali diikatnya dengan plester, dan plester itu terus dilitkan sampai mengikat ke bahu, hingga Savira betul-betul terikat erat. Ikatan itu membuat Savira kesakitan, ia menggeliat dan buah dadanya semakin membusung keluar.

“Lepaskannnn!! Sakittt!! aduhh!! Saya tidak memecat kamu!!!! Tapi kenapa saya diikat ?!!”
“Sebenarnya Aku tadinya mau ngerampok nih toko, cuma kayaknya Aku udah keduluan. Jadi baiknya Aku rusak aja deh nih toko”.
Ia kemudian melepaskan ikatan kaki Savira sehingga sekarang Savira duduk di pinggir meja dengan tangan terikat di belakang. Dan diikatnya lagi dengan plester.

Dan Tomy mulai menghancurkan isi toko itu, etalase dipecahnya, rak-rak ditendang jatuh. Lalu Tomy juga menghancurkan kotak pendingin es krim yang ada di kanan Savira. Es krim beterbangan dilempar oleh Tomy. Beberapa di antaranya mengenai tubuh Savira, kemudian meleleh mengalir turun, melewati punggungnya masuk ke belahan pantatnya.

Di depan, Es tadi mengalir melalui belahan buah dadanya, turun ke perut dan mengalir ke vagina Savira. Rasa dingin langsung menempel di buah dada Savira, membuat putingnya mengeras san mengacung. Ketika Tomy selesai, tubuh Savira bergetar kedinginan dan lengket karena es krim yang meleleh.

“Kamu keliatannya kedinginan!” ejek si Tomy sambil menyentil puting susu Savira yang mengeras kaku.
“Aku harus ngasihh kamu sesuatu yang anget.”

Tomy kemudian mendekati wajan untuk mengoreng hot dog yang ada di tengah ruangan. Savira melihat Tomy mendekat membawa beberapa buah sosis yang berasap.

“Jaaaangaann!” Savira berteriak ketika Tomy membuka bibir vaginanya dan memasukan satu sosis ke dalam vaginanya yang terasa dingin karena es tadi. Kemudian ia memasukan sosis yang kedua, dan ketiga. Sosis yang keempat putus ketika akan dimasukan. Vagina Savira sekarang diisi oleh tiga buah sosis yang masih berasap. Savira menangis karena kesakitan akibat uap panas dari sosis tersebut.

“Keliatannya nikmat Nih….Ha..Ha…!” Tomy tertawa.
“Tapi Aku lebih suka bermain dengan mustard!” Kemudian Ia mengambil botol mustard dan menekan botol itu.

Cerita Dewasa Terbaru 2026| novelasupan.com

Cairan mustard langsung keluar menyemprot ke vagina Savira. Savira menangis terus, melihat dirinya disiksa dengan cara yang tak terbayangkan olehnya.
Sambil tertawa Tomy melanjutkan usahanya dengan menghancurkan isi toko itu. Savira berusaha melepaskan diri, tapi tak berhasil. Nafasnya sangat tersengal-sengal, ia tidak kuat menahan semua ini. Tubuh Savira bergerak lunglai jatuh. “Hei!! Kamu kalo kerja jangan tidur!” bentak Tomy sambil menampar pipi Savira.
Kamu tau nggak, daerah sini nggak aman jadi perlu ada alarm.”

Savira pun meronta ketakutan melihat Tomy yang memegang dua buah jepitan buaya. Jepitan itu bergigi tajam dan jepitannya sangat keras sekali. Tomy segera mendekatkan satu jepitan ke puting susu kanan Savira, menekannya hingga terbuka dan melepaskannya hingga menutup kembali menjepit puting susu Savira.

Savira menjerit dan teriak kesakitan, gigi jepitan tadi menancap ke puting susunya. Kemudian Tomy juga menjepit puting susu yang ada di sebelah kiri. Air mata Savira bercucuran di pipi.

Kemudian Tomy mengikatkan kawat halus di kedua jepitan tadi, lalu mengulurnya dan kemudian mengikatnya ke pegangan pintu masuk. Ketika pintu itu didorong Tomy hingga membuka keluar, Savira merasa jepitan tadi tertarik oleh kawat, dan membuat buah dadanya tertarik dan ia menjerit kesakitan.

“Nah…..,Hmmm… udah jadi. sekarang pintu depan ini bisa buka ke dalem ama keluar, tapi bisa juga disetel cuma bisa dibuka dengan cara ditarik bukan didorong. Jadi Aku sekarang pergi dulu, terus nanti Aku pasang biar pintu itu cuma bisa dibuka kalo ditarik. Nanti kalo ada orang dateng, pas dia dorong pintu kan nggak bisa, pasti dia coba buat narik tuh pintu, nah, pas narik itu alarmnya akan bunyi!”

“Jaaaaaangan! saya mohoon! Jangan! jangan! jangan! ampun!

Tomy pun tidak peduli, ia keluar dan tidak lupa memasang kunci pada pintu itu hingga sekarang pintu tadi hanya bisa dibuka dengan ditarik. Savira pun menangis ketakutan, Dan puting susunya sudah hampir rata, dijepit. Ia terlihat meronta-ronta berusaha melepaskan ikatan. Tubuh Savira berkeringat setelah berusaha melepaskan diri tanpa hasil.

Beberapa saat kemudian terlihat sebuah bayangan di depan pintu, Savira melihat ternyata bayangan itu milik gelandangan yang sering lewat dan meminta-minta. Gelandangan itu melihat tubuh Savira, telanjang dengan buah dada mengacung. Segera saja Gelandang itu mendorong pintu masuk. Pintu itu tidak terbuka. Si Gelandangan langsung meraih pegangan pintu dan mulai menariknya.

Savira langsung menjerit “Jangan! jangan! jangan buka! jangaann!”, tapi gelandangan tadi tetap menarik pintu, yang kemudian menarik kawat dan menarik jepitan yang ada di puting susunya. Gigi-gigi yang sudah menancap di daging puting susunya tertarik, merobek puting susunya. Savira menjerit keras sekali sebelum jatuh di atas meja. Pingsan.

Tapi Savira tersadar dan menjerit. Sekarang ia berdiri di depan meja kasir. Tangannya terikat ke atas di rangka besi meja kasir. Dan kakinya juga terikat terbuka lebar pada kaki-kaki meja kasir. Ia merasa kesakitan. Puting susunya sekarang berwarna ungu, dan menjadi sangat sensitif. Udara dingin saja membuat puting susunya mengacung tegang.

Memar-memar menghiasi seluruh tubuhnya, mulai pinggang, dada dan pinggulnya. Savira merasakan sepasang tangan berusaha membuka belahan pantatnya dari belakang.

Sesuatu yang dingin dan keras berusaha masuk ke liang anusnya. Savira menoleh ke belakang, dan ia melihat gelandangan tadi berlutut di belakangnya sedang memegang sebuah botol bir.

“Ja…Jangan, ampun! Lepaskan saya pak! Saya sudah diperkosa dan dipukuli! Saya tidak tahan lagi.”
“Habisnya pantat Mbak kan belom diituin.” gelandangan itu berkata tidak jelas.
“Jangaaaaan!” Savira meronta, ketika penis si gelandangan tadi mulai berusaha masuk ke anusnya.

Setelah beberapa kali usaha, gelandangan tadi menyadari penisnya tidak bisa masuk ke dalam anusnya Savira. Lalu ia langsung berlutut lagi, mengambil sebuah botol bir dari rak dan mulai mendorong dan memutar-mutarnya masuk ke liang anus Savira.

Savira menjerit-jerit dan meronta-ronta ketika leher botol bir tadi mulai masuk dengan keadaan masih mempunyai tutup botol yang berpinggiran tajam. Liang anus Savira tersayat-sayat ketika gelandangan tadi memutar-mutar botol dengan harapan liang anus Savira bisa membesar.

Setelah beberapa Lama tiba-tiba gelandangan tadi mencabut botol tersebut. Tutup botol bir itu sudah dilapisi darah dari dalam anus Savira, tapi ia tidak peduli. Gelandang itu kembali berusaha memasukan penisnya ke dalam anus

Savira yang sekarang sudah membesar karena dimasuki botol bir. Gelandangan tadi mulai bergerak kesenangan, rasanya sudah lama sekali ia tidak meniduri perempuan, ia bergerak cepat dan keras sehingga Savira merasa dirinya akan terlepar ke depan setiap gelandangan tadi bergerak maju. Savira terus menangis melihat dirinya disodomi oleh gelandangan yang mungkin membawa penyakit kelamin,

tapi gelandangan tadi terus bergerak makin makin cepat, tangannya meremas buah dada Savira, membuat Savira menjerit karena puting susunya yang terluka ikut diremas dan dipilih-pilih.

Asupan cerita dewasa| novelasupan.com

Akhirnya dengan satu erangan, gelandang tadi orgasme, dan Savira merakan cairan hangat mengalir dalam anusnya, sampai gelandangan tadi jatuh terduduk lemas di belakang Savira.

“Makasih yaaa Mbak! Saya puas sekaliiiii! Makasih.” gelandangan tadi melepaskan ikatan Savira. Kemudian ia mendorong Savira duduk dan kembali mengikat tangan Savira ke belakang, kemudian mengikat kaki Savira erat-erat. Kemudian tubuh Savira didorongnya ke bawah meja kasir hingga tidak terlihat dari luar.

Sambil terus mengumam terima kasih dan sigelandangan tadi berjalan sempoyongan sambil membawa beberapa botol bir keluar dari toko. Savira terus saja menangis, merintih merasakan sperma gelandangan tadi mengalir keluar dari anusnya. Lama kemudian Savira jatuh pingsan karena kelelahan dan shock Berat. Dan tersadar ketika Ia ditemukan oleh rekan kerjanya yang masuk pukul 7 pagi, rekan kerjanya sangat terkejut melihat kondisi Savira.
“Tamat”

BACA JUGA CERITA DEWASA >> GADIS PERAWAN BERHIJAB

Author: admin